Aksi Teror Tak Mengenal Hari Raya, Semua Pihak Wajib Bersatu dan Waspada

MONITOR, Jakarta – Aksi teror kembali terjadi di Indonesia. Kali ini, kelompok teror yang diduga berafiliasi dengan ISIS melakukan penyerangan terhadap seorang anggota Polda Sumatera Utara Aiptu Martua Sigalingging hingga tewas. 

Dalam penyerangan ini pelaku berjumlah dua orang. Satu di antaranya berinisial AR tewas ditembak polisi, dan satu lainnya berinisial SP sedang kritis. Kedua pelaku diduga kuat merupakan pengikut Abu Bakar al Baghdadi dan pernah ke Suriah hingga akhirnya masuk dalam sel JAD (Jamaah Anshorut Daulah) di Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif Center Of Intelegence and Strategic Studies Ngasiman Djoyonegoro, Aksi penyerangan Mapolda Sumut ini menunjukkan semakin nyata bahwa ancaman terorisme tiada berakhir. Terlebih bentuk aksi teror akhir-akhir ini berbeda dengan aksi teror terdahulu. Yaitu yang disebut dengan lone wolf. 

Aksi teror lone wolf ini terang pria yang biasa disapa Simon itu sangat sulit dan bahkan hampir tidak bisa dideteksi Karena seluruh perencanaan aksi berada pada diri pribadi sang pelaku. 

"Tidak ada rencana strategis yang melibatkan beberapa orang dari kelompoknya. Melihat kondisi ini, seolah Indonesia tak ada liburnya dalam menghadapi ancaman teror. Bahkan di tengah hari yang fitri pun, aksi teror masih bisa saja terjadi," kata Simon dalam rilis yang diterima MONITOR, Minggu (25/6).

Simon menambahkan ditinjau dari sisi keamanan, Polri sebagai pelayan masyarakat hendaknya meningkatkan pengamanan di setiap kantor polisi. Hal ini selaras dengan anggapan kelompok JAD bahwa seluruh anggota Polri adalah anshorut toghut yang wajib diperangi dan halal darahnya. Sehingga, kantor polisi dan pos polisi perlu mendapatkan pengamanan yang lebih.

"Dilain sisi, Polri sebagai aparat penegak hukum, hendaknya segera menindak tegas kepada seluruh pihak yang memiliki keterkaitan dengan aksi teror yang terjadi di 1 Syawal ini," tambahnya.

Dukungan dari masyarakat kepada Polri berupa laporan ketika ada hal yang dirasa mencurigakan juga perlu. Karena pengawasan Polri kepada seluruh masyarakat Indonesia tentu tidak dapat sepenuhnya. 

"Peran masyarakat untuk peka terhadap lingkungan sekitar tentu sangat membantu kinerja Polri dalam menjaga keamanan Indonesia," ujarnya.

Simon berharap seluruh pihak harus bergandengan tangan, mendukung dengan sepenuh hati aparat penegak hukum menegakkan hukum tanpa terkecuali untuk menciptakan rasa aman dan ketenteraman bagi masyarakat. 

"Selain Polri, peran TNI, BIN, Densus 88, dan instansi terkait juga perlu bekerja sama untuk melahirkan sinergi dan langkah konkrit dalam penanganan terorisme di Indonesia. Apalagi BNPT, sebuah lembaga yang secara khusus sebagai lembaga penanggulangan terorisme, hendaknya lebih terdepan dalam penanganan teror di Indonesia," tegasnya.

Sementara itu dari sisi perundang-undangan, Simon mengingatkan kejadian tersebut harusnya menjadikan momentum DPR sesegera mungkin menyelesaikan item-item yang belum dituntaskan dalam RUU Terorisme dengan penekanan pada kerja sama dari seluruh pihak untuk membentengi masyarakat dari maraknya ideologi-ideologi terorisme yang terus beredar dan sangat senyap penyebarannya. 

"penguatan ideologi Pancasila dan nilai-nilai toleransi, kebangsaan dan persatuan perlu dilakukan segera dan harus menyentuh sampai lapisan masyarakat," pungkasnya.