Berdirinya Partai Demokrat; Dari, Oleh, dan Untuk SBY

MONITOR – Menko Polkam era Presiden Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mundur dari kursi kabinet. Banyak pihak bersimpati dan menilai mundurnya SBY diduga karena tidak cocok dengan berbagai kebijakan Megawati.

SBY menjadi antagonis pemerintah saat itu yang tengah mengalami degradasi kepuasan publik atas berbagai kebijakannya. Seolah menjadi pihak yang paling terdzalimi, popularitas dan simpatik publik makin tak terbendung kepada SBY yang juga kalah dalam sidang umum pemilihan calon wakil presiden oleh MPR tahun 2001.

Susilo Bambang Yudhoyono

Momentum yang tepat, pada 9 September 2001 bertepatan dengan hari ulang tahunnya, SBY lantas mendirikan partai baru bernama Partai Demokrat sebagai kendaraan politik menghadapi Pemilu 2004. Kali ini, bukan lagi posisi wakil presiden yang menjadi incaran, melainkan mengantar SBY menjadi presiden RI.

Dikomandoi Vence Rumangkang yang menyatakan dukungannya untuk mengusung SBY ke kursi Presiden, Perumusan konsep dasar dan platform partai saat itu dilakukan oleh Tim Krisna Bambu Apus.

Dikutip dari laman demokrat.or.id, pada tanggal 20 Agustus 2001, Vence Rumangkang yang dibantu Sutan Bhatoegana membentuk Tim 9 yang beranggotakan 10 (sepuluh) orang yang bertugas untuk mematangkan konsep-konsep pendirian sebuah partai politik yakni: (1) Vence Rumangkang; (2) Dr. Ahmad Mubarok, MA.; (3) Drs. A. Yani Wachid (almarhum); (4) Prof. Dr. Subur Budhisantoso; (5) Prof. Dr. Irzan Tanjung; (6) RMH. Heroe Syswanto Ns.; (7) Prof. Dr. RF. Saragjh, SH., MH.; (8) Prof. Dardji Darmodihardjo; (9) Prof. Dr. Ir. Rizald Max Rompas; dan (10) Prof. Dr. T Rusli Ramli, MS.

Pada tanggal 9 September 2001, bertempat di Gedung Graha Pratama Lantai XI, Jakarta Selatan berdirilah Partai Demokrat. Vence Rumangkang saat itu meminta Prof. Dr. Subur Budhisantoso sebagai Pejabat Ketua Umum dan saudara Prof. Dr. Irsan Tandjung sebagai Pejabat Sekretaris Jenderal sementara Bendahara Umum dijabat oleh saudara Vence Rumangkang.

Selanjutnya pada tanggal 17 Oktober 2002 di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC), Partai Demokrat dideklarasikan dan dilanjutkan dengan Rapat Kerja Nasional (Rakemas) Pertama pada tanggal 18-19 Oktober 2002 di Hotel Indonesia yang dihadiri Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) seluruh Indonesia.

Partai demokrat akhirnya menjadi peserta pemilu 2004. Hasilnya, meraih suara sebanyak 7,45% (8.455.225) dari total suara dan mendapatkan kursi sebanyak 57 di DPR. Meski tidak menjadi pemenang, namun partai berlambang bintang mercy itu berhasil mengantarkan SBY meraih kursi presiden yang saat itu berdampingan dengan Jusuf Kalla. Pasangan SBY-JK saat itu mengalahkan pasangan Megawati-Hasyim Muzadi (alm).

Pada Pemilu 2009, Partai Demokrat membuat kejutan dengan keluar sebagai pemenang pemilu dan kembali mengantarkan SBY yang berpasangan dengan Boediono menjadi presiden dan wakil presiden untuk periode kedua 2009-2014 mengalahkan pasangan Megawati-Prabowo Subianto.

Partai Demokrat kala itu memperoleh 150 kursi (26,4%) di DPR RI, setelah mendapat 21.703.137 total suara (20,4%). Partai Demokrat meraih suara terbanyak di banyak provinsi.

Prahara Korupsi Kader

Disaat tengah menikmati kekuasaan sebagai partai baru, Demokrat tiba-tiba harus dihadapkan pada prahara konflik. Bukan dihantam atau dihancurkan oleh musuh-musuh politik atau kompetitor partai.

Prahara dan keretakan partai demokrat justru terjadi akibat ulah kader-kadernya sendiri tepatnya di periode ketiga kepengurusan partai dibawah pimpinan Anas Urbaningrum yang banyak terjerat bernagai kasus korupsi.

Bermula saat Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin dijadikan tersangka korupsi pembangunan wisma Atlet di Palembang. M. Nazaruddin bahkan sempat diburu interpol, kepolisian, dan KPK untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya menerima fee suap dari proyek SEA Games 2011 yang akhirnya menghasilkan banyak keterangan yang melibatkan beberapa anggota partai sebelum akhirnya diciduk polisi Colombia di Cartagena.

Kasus wisma atlet terus bergulir dan menjadi bola panas. Imbasnya, kader demokrat lain. Andi Malarangeng pun mengundurkan diri sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga pada 7 Desember 2012 karena ditetapkan sebagai tersangka.

Sementara itu, Anas Urbaningrum juga mengundurkan diri sebagai Ketua Umum Partai Demokrat setelah menandatangani pakta integritas pada 14 Februari 2013 yang kemudian diikuti penetapan sebagai tersangka oleh KPK pada tanggal 22 Februari 2013 atas kasus gratifikasi mobil dan lain-lain.

Pada tanggal 23 Februari 2013 Anas mundur sebagai ketua umum Partai Demokrat sehingga menimbulkan kekosongan kursi ketua umum.

Anas Urbaningrum dan SBY (net)

Imbas dari prahara tersebut membuat partai demokrat terjun bebas dalam perolehan suara di Pemilu 2014 dari posisi pertama pada 2009, menjadi posisi keempat dari 10 partai di DPR, dengan perolehan suara sebanyak 10,19% suara nasional (12.728.913).

Kondisi partai demokrat semakin tak menentu usai mereka memilih tak bersikap mendukung salah satu calon presiden pada 2014 silam antara Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta.

SBY Ambil Alih

Pada Kongres Luar Biasa Partai Demokrat yang diadakan di Bali tanggal 30 Maret 2013, Susilo Bambang Yudhoyono ditetapkan sebagai ketua umum Partai Demokrat, menggantikan Anas Urbaningrum.

Menjelang pemilu 2014 Partai Demokrat membuat langkah politik mengejutkan dengan mencoba peruntungan mendorong kadernya sendiri yang juga putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang sebelumnya gagal di kontestasi pilkada DKI Jakarta.

AHY diangkat menjadi komandan Kogasma dan didorong demokrat sebagai rissing star mendongkrak perolehan suara di 2014. Namun alih-alih menawarkan AHY menjadi calon pimpinan nasional dengan merapat ke Prabowo, demokrat justru harus menerima kenyataan pahit tatkala koalisi Prabowo lebih memilih wakil gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno sebagai cawapres.

Ketua Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)

Hari ini, bertepatan dengan hari ulang tahun SBY yang ke-69, Partai Demokrat genap berusia 17 tahun. Perayaan sederhana pun digelar di kediaman Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di Jalan Mega Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Minggu (9/9/2018).

Apa dan bagaimana strategi partai demokrat kembali meraih kejayaannya pada pemilu-pemilu yang akan datang? Entehlah, yang pasti semua ada pada SBY sebagai kuncinya.