Cegah Eksploitasi Remaja, KPAI Kumpulkan Pengelola Tempat Hiburan di Jakarta

MONITOR, Jakarta – Kasus trafficking dan eksploitasi remaja yang terjadi belakangan ini membuat Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin. Untuk mencegah modus kejahatan ini, KPAI berinisiatif menggelar acara Focus Group Discussion (FGD) dengan para pengelola hiburan di Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan Sujatmiko selaku Deputi Bidang Perlindungan Perempuan Dan Anak Kemenko PMK, Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata, Oneng Setya Harini dan Komisioner KPAI bidang Trafficking dan Eksploitasi Anak, Ai Maryati Solihah.

Dalam sambutannya, Ai Maryati Solihah mengungkapkan bahwa sanding area peristiwa trafficking dan eksploitasi anak masih didominasi terjadi di area hiburan seperti perhotelan, café dan diskotik. Pada tahun 2018 selain area tersebut, trendnya bergeser ke Apartemen, kos-kosan hingga rumah pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa tempat tersebut membutuhkan perhatian untuk diajak bersama-sama melakukan tindak pencegahan. 

"Salah satu bentuknya dengan edukasi dan intervensi melalui akses peningkatan sumber daya para pengelola terhadap gerakan perlindungan anak," ujar Ai Maryati di Jakarta, Jumat (13/4).

Ai pun berharap, para pengelola hiburan akan berwawasan, semakin peduli, serta menerapkan kebijakan perlindungan anak dalam sector pariwisata. Kesepahaman para pengelola hiburan, menurut KPAI, menjadi ujung tombak bagi terselenggaranya pariwisata ramah anak. Tujuannya untuk mencegah dan melawan tindak kejahatan trafficking dan eksploitasi yang mengincar anak oleh para predator anak, dengan modus wisatawan serta peristiwa-peristiwa eksploitasi pekerja anak.

"KPAI mencatat adanya laporan Kementerian Hukum dan HAM Kepala Bagian Humas Dirjen Imigrasi, Agung Sampurno yang mengungkapkan sampai Desember 2017 telah mencekal 112 orang warga asing pelaku kejahatan pedofilia yang sebagian besar menggunakan visa kunjungan wisata," ujarnya.