Pariwisata

7 Tradisi Mengerikan yang Pernah Ada di Indonesia

Ilustrasi gambar (net)

MONITOR Jakarta - Indonesia merupakan Negara dengan banyak suku dan budaya, hal itulah yang menjadi daya tarik tersendiri di Indonesia, selain dengan sukunya pemandangannya pun tidak kalah menarik untuk dijelajahi dari mulai di darat sampai di lautan.

Tetapi suku-suku di Indonesia juga mempunyai budaya adat, dan kebiasaan yang terbilang menyeramkan. Berikut beberapa suku di Indonesia yang mempunyai tradisi kebudayaan paling seram dilansir dari anehnyadunia.

1. Perang Pandan di Bali

Gambar terkait

Tradisi yang cukup menyeramkan pertama datang dari pulau dewata. Tradisi ini disebut juga dengan nama Perang Pandan. Tradisi ini berasal dari Desa Tenganan, Kec. Karangasem, Bali. Penduduk setempat biasa menyebut perang pandan dengan nama Makere-kere. Perang ini dilakukan dengan cara saling memukul menggunakan pandan. Yang membuat tradisi ini terlihat menyeramkan adalah pandan yang digunakan adalah pandan yang sudah diberi duri-duri tajam. Peserta juga dibekali dengan sebuah tameng yang dibuat dari anyaman rotan.

Prosesi perang pandan sendiri diiringi dengan alunan musik gamelan seloding. Seloding adalah gamelan khas daerah Tenganan. Hanya orang-orang yang sudah disucikanlah yang boleh memainkan gamelan ini. Gamelan ini juga dilarang menyentuh tanah oleh warga setempat. Tradisi perang pandan ini dilakukan setiap bulan kelima penanggalan desa Tenganan. Prosesinya sendiri dilakukan selama dua hari berturut-turut dari pukul 2 siang hingga pukul 3 dini hari.

2. Kerik gigi di Mentawai, Sumatra



Kerik gigi memang terdengar sangat mengerikan di telinga kita. Namun, nyatanya hal ini yang dilakukan oleh para wanita di kepulauan Mentawai, Sumatra. Tradisi ini wajib dilakukan oleh setiap wanita disana sebagai tanda mereka sudah mencapai kedewasaan. Tradisi ini sudah mereka wariskan dari nenek moyang terdahulu.

Mereka melaksanakan tradisi ini dengan tujuan agar lebih terlihat cantik dan dapat menarik laki-laki yang nantinya akan menjadi suami pendamping hidup. Masyarakat Mentawai percaya bahwa wanita cantik adalah wanita yang memiliki gigi runcing. Selain untuk kecantikan, menurut warga Mentawai tradisi ini juga bertujuan untuk memberikan ketenangan dan kedamaian jiwa.

Proses peruncingan gigi ini juga terasa sangat sakit, karena para ketua adat melakukannya dengan tanpa melakukan bius terlebih dahulu. Bahkan alat yang digunakan juga tidak disterilkan terlebih dahulu. Biasanya alat yang digunakan untuk mengerik gigi adalah kayu atau logam yang telah diasah hingga tajam. Proses peruncingan gigi juga tidak sebentar. Maka dari itu para wanita dituntut harus dapat menahan sakit yang amat sangat.

3. Tradisi Debus di Banten

Gambar terkait

Debus merupakan tradisi yang berasal dari Banten. Tradisi ini mepertunjukkan kemampuan manusia yang kebal akan serangan senjata tajam, dan sebagainya. Debus dalam bahasa Arab memiliki arti besi runcing yang memiliki hulu bundar. Tradisi Debus ini memang terbilang ekstrim dan membuat para penontonnya mengrenyitkan dahi. Debus sering dipertunjukkan pada acara-acara besar.

Pada zaman penjajahan Belanda, tradisi ini dilakukan dan dipertontonkan untuk membakar semangat dan keberanian masyarakat demi melawan penjajah.

4. Ikipalin di Papua

Hasil gambar untuk Ikipalin di Papua

Papua memang diketahui masih banyak suku-suku primitif yang masih jauh dari sentuhan modern. Salah satunya yakni suku Dani. Suku ini memiliki tradisi yang tak lazim dan terkesan mengerikan. Dalam suku Dani, bagi keluarga yang sedang berkabung karena anggota keluarganya meninggal diwajibkan untuk memotong jari mereka. Ritual ini disebut juga dengan nama Ikipalin.

Mereka menganggap dengan memotong jari, keluarga yang ditinggalkan akan terhindar dari kesialan dan balak yang disebabkan oleh meninggalnya anggota keluarga. Namun, karena cukup menyeramkan, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan sekarang. Walaupun masih ada saja keluarga yang melakukan prosesi potong jari ini.

5. Ngayau di Suku Dayak, Kalimantan



Ngayau merupakan tradisi yang dimiliki oleh suku Dayak yang mendiami seluruh wilayah Kalimantan. Tradisi ini sangat menyeramkan karena dalam prosesnya, orang-orang dayak akan berburu kepala. Kata Ngayau sendiri berarti musuh, jadi, tradisi Ngayau adalah ritual para prajurti Dayak untuk berburu kepala musuh perang mereka.

Mereka percaya bahwa dengan memenggal kepala musuh dan membawanya, dapat melindungi mereka dari arwah gentayangan musuh yang telah dibunuh. Ngayau juga tidak dapat dilakukan sembarangan. Hanya orang-orang tertentu di suku Dayak yang diperbolehkan untuk melakukan ritual Kayau.

Namun tradisi ini sekarang sudah tidak dilakukan lagi mengingat sudah tidak pernah ada lagi perang antar suku. Wilayah Kalimantan juga sudah mulai tersentuh teknologi dan modernisasi.

7. Kanibalisme di Papua

Hasil gambar untuk kanibalisme di papua

Masih dari daratan Papua, ada ritual yang sangat sadis dan mengerikan. Yakni ritual memakan sesama manusia atau disebut juga dengan kanibalisme. Tradisi aneh ini pertama kali diketahui oleh seorang anak laki-laki dari luar daerah yang mengatakan telah melihat seorang ayah memakan anak perempuannya yang masih berumur di bawah lima tahun.

Orang tersebut menikmati daging anaknya mentah-mentah, tanpa dimasak atau apapun. Dia menggigit bagian leher lalu meminum darahnya. Ternyata diketahui ritual ini berasal dari suku Korowai. Dimana upacara ini hanya dilakukan bagi orang yang telah melanggar aturan adat di suku tersebut. Maka hukumannya orang tersebut akan dimakan oleh sesama warga suku Korowai.

8. Penamou, Pulau Seram

Hasil gambar untuk penamou

Jika poin-poin diatas menjelaskan tentang tradisi yang mengerikan secara fisik, maka kali ini akan dijelaskan tentang tradisi yang menyiksa secara sosial. Tradisi ini bernama Penamou dari Pulau Seram.

Dikatakan menyiksa sosial karena seseorang akan diasingkan ditempat sempit yang jauh dari keramaian desa. Orang yang diperbolehkan melakukan ritual ini hanyalah wanita saja. Biasanya digunakan sebagai tanda bahwa wanita tersebut sudah mulai beranjak dewasa, terutama wanita yang dalam masa menstruasi.

Wanita tersebut akan diasingkan di gubuk sempit berukuran 2x2 meter beralaskan tanah dan atap daun. Sendiri, sepi, dan jauh dari keluarga. Dia dilarang untuk berinteraksi dengan dunia luar apalagi laki-laki. Gubuk yang ditinggali wanita ini juga dilarang untuk dikunjungi. Bahkan untuk dilewati laki-laki pun tidak diperbolehkan.

(SKW)