Energi

Pengamat Beberkan Penyebab Capaian Sektor Migas 2017 Membaik

Ilustrasi gambar: pump jack (Pixabay)

MONITOR, Jakarta - Penerimaan negara dari sektor minyak dan gas bumi (migas) 2017 mencatatkan raihan positif. Selain menyumbang pendapatan negara sebesar Rp 138 triliun, angka tersebut melampaui target Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 yang dipatok Rp 118,4 triliun, atau 117 diatas target.

Capaian tersebut termasuk penerimaan negara dari subsektor hulu migas yang juga mencapai 108 persen diatas target APBNP 2017. Yakni sebesar 13,1 miliar dolar dari target semula 12,2 miliar dolar. Hal itu juga didukung porsi bagi hasil untuk pemerintah yang pada tahun tersebut sebesar 45 persen, sedangkan pada 2016 hanya 38,8 persen.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai, capaian positif sektor migas 2017 tak lain karena dua faktor, diantaranya yakni pergerakan harga minyak dunia dan peran Pemerintah dalam memenuhi target produksi migas.

"Kalau dibanding tiga tahun kebelakang, tentu capaian tahun 2017 relatif bagus, karena kan harga minyak dan gas meningkat. Kalau di 2014 turun derastis, bahkan sempat mencapai angka 30 dolar per barel. Sekarang kan mulai berangsur-angsur meningkat, sudah diatas 50, bahkan ada kemungkinan menyentuh angka 65," kata Komaidi saat dihubungi MONITOR, Kamis (11/1).

"Jadi pada satu sisi memang ada kontribusi harga minyak yang meningkat, disisi lain ada peran Pemerintah untuk paling tidak memenuhi target produksi yang telah ditetapkan didalam APBN," tambahnya.

Produksi migas hingga 31 Desember 2017 mencapai 2.162 ribu barrel oil equivalent per day (BOEPD) atau sekitar 101,4 persen dari target APBNP 2017 yang dipatok 2,133 ribu BOEPD. Sementara lifting (produksi migas siap jual) baru mencapai 98,9 persen dari target, atau mencapai 1.944 ribu BOEPD dari target 1.965 ribu BOEPD.

Menurut Komaidi, kondisi yang demikian dapat diwajarkan mengingat sektor migas memiliki waktu yang cukup lama hingga bisa dikonversi menjadi produksi. "Dari sisi produksi kemungkinan masih akan relatif normal ya, karena produksi itu ditentukan dari cadangan yang sudah terbukti saat ini. Sementara yang dilakukan pemerintah saat ini mungkin efeknya akan terasa dalam beberapa tahun mendatang," terangnya.

Target tak tercapai juga dialami pada realisasi investasi sektor migas 2017, yakni sebesar 9,33 miliar dolar dari target 12,29 miliar dolar, atau hanya mencapai 80 persen. Namun, lanjut Komaidi, beberapa target yang belum tercapai tersebut tidak membuat capaian Pemerintah di sektor migas buruk, melainkan terus berkembang.

"Jadi kalau ditanya capaian pemerintah bagus apa tidak, ya bukan berarti tidak bagus, tetapi hasilnya tidak bisa langsung. Jadi saat ini mungkin efeknya baru bisa dirasakan dua atau tiga tahun kedepan, tetapi kalau ditanya PP (Peraturan Pemerintah) Perpajakan tentang Gros Split, tentu harapannya bisa menarik investor untuk berinvestasi," katanya.


(hans)

Tags Migas ESDM