Sosial

Komitmen Indonesia Jaga Lingkungan Global, Mulai Perubahan Iklim hingga Air Bersih

The Third Meeting of the United Nations Environmental Assembly, di Nairobi, Kenya, 4-6 Desember 2017 (KLHK)

MONITOR, Jakarta - Setelah perubahan iklim, Indonesia juga menyatakan komitmennya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) ke – 6, yaitu Sanitasi dan Air Bersih. Sebagaimana disampaikan Soehardjono Sastromihardjo, Duta Besar Indonesia, mewakili negara Indonesia, dalam The Third Meeting of the United Nations Environmental Assembly, di Nairobi, Kenya, 4-6 Desember 2017.

“Indonesia telah meningkatkan kualitas air kita. Kami memiliki efisiensi air industri sekitar 492 juta metrik ton, mengurangi debit polusi menjadi 535 juta metrik ton, dan 62% peningkatan akses sanitasi pada tahun 2016. Indonesia terus mengurangi 90% limbah air limbah domestik dalam mencapai peningkatan kualitas air pada tahun 2030”, ujar Soehardjono.

Soehardjono juga menjelaskan, dalam memastikan kesehatan laut dan terkait dengan SDGs 14, sejak tahun 2015 Indonesia telah memerangi praktik penangkapan ikan di IUU. “Indonesia secara konsisten terus berupaya melindungi dan melestarikan terumbu karang, termasuk dengan menanam kembali terumbu karang dengan partisipasi masyarakat, sektor swasta dan generasi muda yang tinggi”, tambahnya.

Dalam pertemuan ini, Soehardjono juga menginformasikan berbagai komitmen lainnya dari negara Indonesia, khususnya terkait pengelolaan sampah laut (marine debries), pengendalian pencemaran lingkungan, dan perlindungan ekosistem gambut.

“Indonesia juga telah menetapkan status garis dasar dalam mencapai komitmen mengurangi 70% sampah laut, mengurangi 30% dan menangani 70% limbah padat domestik, pada tahun 2025, serta meratifikasi Konvensi Minamata”, tuturnya.

Sejak April 2017 Indonesia telah menerapkan standar emisi kendaraan yang setara dengan Euro 4, yang akan mengurangi 60% belerang di daerah perkotaan pada tahun 2050. “Pada polusi kabut, kami telah berhasil mengurangi polusi kabut yang mempengaruhi negara-negara tetangga sampai hari nol pada tahun 2017, dibandingkan dengan 24 hari di tahun 2015’’, ungkap Soehardjono.

Selanjutnya, sebagaimana pernah disampaikan sebelumnya oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya, pada National Statement COP-23 UNFCCC, Soehardjono juga menyampaikan keberhasilan Indonesia dalam mengembalikan 680.000 hektar lahan gambut, dari target 2 juta hektar pada tahun 2020, sebagai dukungan terhadap pencapaian kontribusi nasional pengurangan emisi karbon sebesar 20% pada 2030 oleh usaha sendiri (business as usual/BAU).

Terakhir Soehardjono menegaskan bahwa Indonesia memperkuat kerjasama internasional dan kemitraan global dalam mengurangi dan menghilangkan polusi global. “Indonesia siap membantu negara-negara berkembang lainnya melalui Kerjasama Selatan-Selatan dan Segitiga di bidang pengelolaan pertanian, kehutanan dan kawasan pesisir”, pungkasnya.

(hans)