Wawancara

Franz Magnis Suseno: Agama Harus Jadi 'Rahmatan Lil Alamin'

Rohaniawan Katolik Romo Frans Magnis Suseno saat ditemui redaksi Monitor di Pasca Sarjana STF Driyarkara

MONITOR, Jakarta – Belakangan ini kondisi bangsa Indonesia kian memprihatinkan. Masuknya ancaman radikalisme, terorisme dan separatisme di tanah air membuat sedikitnya masyarakat terpecah belah. Dalam situasi ini, Pancasila sebagai ideologi terbuka tengah diuji ketahanannya dalam membentengi keutuhan NKRI.

Belum lagi, muncul gerakan organisasi transnasional yang massif mengkampanyekan sebuah ideologi selain Pancasila. Gerakan ini mengusung sistem pemerintahan yang bertentangan dari prinsip demokrasi yang dianut Indonesia.

Selain itu, penegakan hukum dan peraturan dinilai masih sangat lemah dan tidak adil. Ini membuat sebagian besar masyarakat merasa terdiskriminasi sehingga melakukan pola-pola penghujatan dan merongrong kewibawaan Pemerintah dan Ideologi Negara. Fakta diatas menimbulkan keresahan dalam diri Budayawan Indonesia sekaligus Rohaniawan Katolik, Franz Magnis Suseno.

Romo Magnis, demikian sapaan akrabnya, mengakui secara gamblang bahwa dalam dekade terakhir ancaman radikalisme dan ekstrimisme memang menyebar luas di Indonesia. Dari ujung Sabang hingga Merauke, ia meyakini ada banyak masyarakat yang mulai menginginkan perubahan atas konstitusi negara dewasa ini. Hal ini, dia sampaikan saat berbincang hangat dengan redaksi Monitor di Gedung Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta.

Berikut ini cuplikan wawancara bersama Romo Magnis, sang peraih penghargaan Kanisius Award.

Bagaimana Anda melihat kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini?

Satu hal yang saya soroti, bagi sebagian besar bangsa Indonesia hidup ini masih keras. Mungkin dari 50 persen, bangsa kita adalah orang yang tak lagi miskin tapi masih jauh dari standar sejahtera. Hidup mereka setiap hari harus membawa makanan untuk anak-anak, dan memastikan anak-anak mereka bisa makan dan bertahan hidup.

Masyarakat dengan ekonomi menegah kebawah, berpotensi menjadi sasaran radikalisme?

Ya betul. Masyarakat yang demikian memiliki kecenderungan ke arah sana. Mereka yang mengalami upaya diskriminasi atau ketidakadilan sosial pasti akan mudahnya terpengaruh paham-paham seperti ini.

Apa saja faktor yang menyebabkan mudahnya paham radikalisme atau ekstrimisme masuk di Indonesia?

Banyak sekali. Salah satunya yang tadi saya katakan, adanya ketidakadilan sosial. Ini gawat sekali. Apabila ada sekelompok orang yang tengah berjuang di tengah sebuah persaingan, namun ia kalah karena sebuah sistem yang mengikat, dampaknya apa? Ia akan menarik diri dari lingkungan tersebut.

Seseorang akan begitu mudahnya terjerumus paham-paham semisal radikal. Makanya, negara ini perlu menaikkan tingkat keadilan sosial. Karena seseorang apabila diperlakukan secara tidak adil pasti hasilnya akan negatif. Jadi keadilan itu penting menurut saya.

Kedua, menurut saya hal paling serius adalah masalah korupsi. Secara tidak langsung, korupsi ini mulai menggerogoti integritas para pejabat kita. Tidak semuanya bisa menjadi role model atau panutan bagi rakyatnya. Tidak bisa jadi contoh yang baik, kan ini memalukan. Upaya membangun peradaban yang baik, simbolnya justru tidak ada.

Bayangkan saja, pemerintah misalnya ingin membangun jembatan besar dengan sekian anggaran. Lalu mereka korup. Dalam sepuluh tahun kemudian, fungsi jembatan ini tidak akan bertahan lama, bagi saya ini hanya membuang-buang anggaran saja. Dampaknya? Banyak. Terutama bagi kalangan yang ‘sakit hati’ melihat perilaku para pimpinan negerinya seperti ini.

Sejauh ini, bagaimana peran pemerintah dalam menangani masalah radikalisme dan terorisme?

Bagi saya, orang-orang yang menjurus ke arah terorisme, mereka itu adalah suatu minoritas yang sangat kejam. Dan menurut saya, negara ini sudah cukup optimal dalam menindak para pelaku (radikalisme dan terorisme). Secara punishment, ini juga harus ditindak keras, dan saya kira negara sudah efektif melakukan hal itu.

Saya pun mengakui, paham-paham ini memang sulit diberangus hingga akar-akarnya, karena Indonesia ini negara yang sangat besar. Dari ujung Sabang sampai Merauke, selalu akan muncul benih-benih terorisme. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah, sebagian masyarakat yang tidak mengikuti terorisme dan lain sebagainya, dan juga mereka yang tidak menghormati hak-hak para minoritas.

Pada dasarnya, semua agama tidak akan mengajarkan hal demikian. Makanya, kita juga tak perlu takut, dari jutaan masyarakat Indonesia mungkin hanya seribu orang yang mengikuti kepercayaan dari pemimpin spiritual yang sesat. Ini masih bisa kita kendalikan. Makanya, negara juga harus hadir untuk betul-betul mendidik masyarakat supaya tidak ketularan hal seperti itu.

Setiap Agama mengajarkan kebaikan. Dalam konteks ini, apakah tokoh-tokoh agama di Indonesia sudah melakukan upaya pencegahan terhadap tindakan radikalisme di kalangan umat beragama?

Setiap agama pasti akan mengajarkan nilai-nilai yang bagus. Saya yakin itu, baik di Islam, Protestan, Katolik, Budha, Hindu hingga Konghucu. Kami sendiri bersama tokoh agama lainnya sudah sering melakukan dialog dan bersama-sama membahas hal ini, bersama tokoh Muhammadiyah atau NU dan kalangan lainnya. Bagaimana membentengi umat kita agar tidak terjerumus pada hal-hal demikian

Saya sendiri sangat terkesan dengan apa yang ditemukan dalam Al-Qur’an yaitu agama seharusnya menjadi rahmatan lil aalamin. Berati adanya agama harus terasa seperti rahmat, sebagai sesuatu yang mengenakkan yang menyejukkan dan positif. Ini akan membuat pemeluknya merasa nyaman dan damai. Saya mengharapkan juga, kehadiran Katolik disini bukan dilihat semata-mata sebagai saingan, tapi sebagai masyarakat Indonesia yang saling mendukung antara umat satu dengan lainnya.

(tsar)

Terpopuler