Pendidikan

Hujat Menghujat Karena Kecewa, Bolehkah?

Presenter Rina Nose kini memilih untuk membuka jilbabnya

MONITOR, Jakarta - Keputusan lepas jilbab yang dilakukan presenter kondang Rina Nose menuai komentar dari publik. Tak henti-hentinya para netizen mengomentari aksi nekad perempuan asal Bandung itu.

Bahkan di sejumlah forum media sosial, para netizen yang mengaku dulunya mengagumi Rina kini berbalik mencaci dan terus membahas tingkah laku sang idolanya. Lantas, apa sih hukumnya seseorang yang gemar mengomentari keputusan hidup orang lain?

"Ya itu kan urusan dia, bukan urusan kita. Keputusan dia (Rina Nose) untuk melepas jilbab itu sudah urusan dia dengan Allah," ujar Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo saat berbincang dengan Monitor, Selasa (14/11).

Perempuan asal Donggala, Sulawesi Tengah, ini menuturkan seseorang tak perlu bereaksi berlebihan seperti mencaci maki dan terus menyindir orang lain. Rektor Institute Ilmu al-Qur'an (IIQ) Jakarta ini menambahkan, sebaiknya orang tersebut bisa mengingatkan supaya kembali pada ajaran yang sesuai syariat.

"Jangan sekadar mengomentari dan mencaci saja. Itu tidak baik. Tapi yang harus dilakukan adalah mengingatkan dia, membenarkan dia supaya kembali ke ajaran yang benar," imbuh Huzaemah.

Lebih lanjut Huzaemah menyatakan, soft approach (pendekatan yang halus) sebaiknya lebih dikedepankan dalam menghadapi orang yang memiliki masalah. Misalnya mendengarkan isi keluhan dan curhatan orang tersebut tentang masalah yang dihadapinya.

"Jangan cuma menghakimi saja, tapi coba dengarkan dia kena masalah apa sehingga masalah itu membuatnya berbuat seperti itu (melepas jilbab). Apalagi kalau kita orang terdekatnya, harus itu tugasnya mengingatkan dia," jelas Huzaemah.

(tsar)