Sosial

Tragedi Penembakan Letty Sutri dan Fenomena KDRT

Ilustrasi

MONITOR, Jakarta - Publik dikejutkan dengan aksi seorang dokter Helmi yang dengan tega membunuh isterinya dokter Letty Sultri. Hilmi yang seperti kesetanan diketahui memberondong isterinya dengan senjata api hingga menghembuskan nafas terakhir.

Lalu bagaimana pelaku bisa segitu teganya melakukan aksi biadab terhadap isterinya sendiri yang dilakukan disebuah klinik tempat praktek sang isteri di bilangan Cawang, Jakarta Timur, Kamis (9/11).

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengaku heran dimana pada umumnya pelaku kejahatan yang rasional akan memilih modus yang paling efisien sekaligus aman. Berbeda dengan apa yang dilakukan dokter Helmi terhadap isterinya dimana setelah beraksi, dia masih menjalankan misi kedua, yakni menghindari proses hukum.

"Itu kita jadikan sebagai dasar untuk menakar rasionalitas pelaku penembakan. Untuk apa dia sampai keluarkan sekian banyak peluru, padahal satu saja sudah cukup. Malah banyak barang bukti. Utk apa pula dilakukan dihadapan banyak orang. Malah banyak saksi," ujar Reza kepada MONITOR, Senin (13/11).

Reza menilai apa yang terjadi pada kejiwaan dan rasionalitas pelaku saat beraksi tidak sedang optimal, berada dalam kondisi sangat emosional, Amarah, kebencian, sakit hati, frustrasi, dan lain-lain. Namun, meski demikian Reza menegaskan bahwa kemungkinan pelaku tidak waras, kesurupan ataupun karena mengkonsumsi obat-obatan terlarang harus dikesampingkan.

"Kita geger dan sedih kala suami menghabisi isterinya dengan sekian banyak peluru. Padahal boleh jadi ini 'hanya' sebuah titik ekstrim dalam spektrum KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)," tegasnya.

Menurut Reza, tragedi penembakan yang menimpa dokter Letty menjadi realitas tingginya KDRT. "KDRT yang membuat pasangan kehilangan nyawa. Bahwa KDRT adalah fenomena, terbukti Indonesia punya UU KDRT. Pun angka perceraian yang diakibatkan KDRT juga terus mendaki," ujarnya.

"Jelas, pelaku/penembak harus dimintai pertanggungjawaban secara pidana. Hukum berat, jika terbukti,"

Sisi lain, menurut Reza yang juga merupakan ketua pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) patut dipertanyakan mungkinkah seorang suami--tak ada angin tak ada hujan--langsung melakukan tindakan kekerasan fisik sedemikian rupa? Mungkin hanya jika dia berada dibawah pengaruh zat terlarang atau sedang kesurupan, dia sampai hati berperilaku sedemikian ekstrim.

"Jadi, tanpa mengabaikan hak korban akan keadilan, perlu juga ditelisik sebab-musabab kejadian menyedihkan tersebut. Mungkinkah suami sebelumnya berada di posisi teraniaya, sehingga penembakan adalah sebuah peristiwa yang menandai dia tak sanggup lagi bertahan dalam kondisi teraniaya tersebut?" ungkapnya.

"Mari kita cek: Dalam sekian banyak kasus, tidak sedikit isteri/perempuan yang menghabisi suami/lelaki namun divonis tak bersalah dengan pembelaan diri berupa battered wife/woman syndrome. Tp sebaliknya, nyaris tidak ada sama sekali suami/lelaki yang bisa lolos dari hukuman dengan pembelaan berupa battered husband/man syndrome," tandasnya.

"Dalam setiap aksi kejahatan, saya selalu semaksimal mungkin memakai asumsi bahwa pelaku waras. Itu satu-satunya opsi agar pelaku bisa dimintai pertanggungjawaban secara hukum," pungkasnya.

(jml)