Pemerintahan

Mendapat Konverter, Nelayan : Biaya Operasional Melaut Jadi Ringan

Pembagian Konverter Kit kepada para nelayan di Lombok oleh Ditjen Migas Kementerian ESDM, Senin (6/11)

MONITOR, Lombok - Melaut untuk menangkap ikan adalah mata pencaharian utama masyarakat di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Jumlah nelayan di Kabupaten ini mencapai 16.000 orang. Untuk pergi melaut, sebagian besar nelayan masih bergantung kepada bahan bakar minyak (BBM).

Menurut salah seorang tokoh nelayan asal Desa Tanjung Luar, Abdul Hamid, biaya operasional yang dibutuhkan untuk sekali melaut jarak jauh paling sedikit Rp.150.000. "Biaya paling rendah Rp.150.000 untuk operasional per hari jarak jauh," ujar Hamid dalam siaran pers Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang diterima, Selasa (7/11).

Terkadang, jika tidak punya memiliki biaya, terpaksa Hamid harus gagal melaut dan menunda pekerjaanya hingga terkumpul biaya untuk membeli BBM. "Kalau tidak ada biaya terpaksa kami tidak melaut, tertunda pekerjaan kami dalam keseharian," jelas Hamid.

Hal senada juga diungkapkan oleh Akhyar Rosidi, nelayan dari Kecamatan Sambalia. Akhyar telah menerima bantuan paket perdana konverter kit (Konkit) BBM ke Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Lombok Timur pada periode awal. Menurutnya, sebelum menggunakan LPG, nelayan merasa kesusahan karena biaya operasional melaut yang cukup tinggi.

"Kami nelayan Kecamatan Sambalia, dulunya (merasa) sangat susah dengan biaya operasional (melaut) yang cukup tinggi," ungkap Rosidi.

Kini, setelah menggunakan LPG, Rosidi dapat merasakan manfatnya, biaya operasional untum melaut sekarang menjadi lebih ringan.

"Dengan adanya paket (Konkit) ini kami sangat terbantu, karena perbedaan (biaya) antara BBM dan gas ini jauh beda, bisa membantu mengurangi biaya operasional kami," jelas Rosidi.

Sebagaimana diketahui, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Ego Syahrial, hari Senin (6/11), membagikan 471 Paket Perdana Konverter Kit (Konkit) untuk nelayan kecil di Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur.

Pembagian paket perdana konkit di Kabupaten Lombok Timur telah dilakukan sejak 4 Oktober lalu. Hingga tanggal 4 November 2017, sebanyak 1.438 paket di 5 wilayah kecamatan telah dibagikan, yaitu Kecamatan Pringgabaya (228 paket), Kecamatan Sambelia (244 paket), Kecamatan Jerowaru (160 paket), dan Kecamatan Keruak (realisasi 806 dari 897 paket). Ditargetkan pada 18 November nanti, sebanyak 2.000 unit paket konversi ini terdistribusi seluruhnya.

Tahun ini, Kabupaten Lombok Timur juga telah mengajukan permohonan tambahan sebanyak 1.600 paket. Diharapkan pada tahun 2018, permohonan ini dapat direalisasikan oleh Pemerintah.

Untuk mendapatkan paket perdana konkit, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Nelayan terlebih dahulu harus diusulkan oleh dinas yang membidangi kelautan dan perikanan daerah. Nelayan dengan Kapal dengan ukuran lebih kecil atau sama dengan 5 GT (Gross Ton). Kapal berbahan bakar bensin dan menggunakan daya mesin lebih kecil atau sama dengan 13 HP (Horse Power).

Disamping itu, jenis alat tangkap yang digunakan adalah alat tangkap yang ramah lingkungan serta
Belum pernah menerima bantuan sejenis.

Apabila salah satu dari kriteria di atas tidak terpenuhi, maka nelayan tidak akan masuk sebagai calon penerima.

Program pembagian paket perdana konkit BBM ke LPG ini juga dikhususkan untuk nelayan kecil dengan aktivitas mencari ikan sekitar 10 jam perhari atau bisa disebut one day fishing.

(ah)