Wawancara

Anggota Komisi VII DPR, Eni Maulani Saragih : Investasi Migas Butuh Kepastian Hukum

Anggota Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih

MONITOR Jakarta - Investasi di sektor industri minyak dan gas (Migas) di Indonesia dalam dua tahun terakhir kian lesu. Selain faktor eksternal karena harga minyak dunia yang tidak stabil, persoalan internal di dalam negeri juga menjadi faktor lesunya investasi migas. Salah satunya aspek kepastian hukum.

Kontraktor migas seringkali dibuat repot dengan berbagai perubahan aturan dan skema sistem bagi hasil dan ketentuan lainnya yang kadang berubah ditengah jalan seiring dengan kebijakan politik dan ekonomi dalam negeri.

Terkait dengan tidak adanya kepastian hukum tersebut, hingga saat ini payung hukum investasi usaha migas dalam Undang-undang Migas masih terkatung-katung untuk segera direvisi agar ramah investor dan mendukung iklim investasi di sektor migas.

Tidak dapat dipungkiri, energi fosil dalam hal ini migas masih menjadi sumber energi utama Indonesia sekaligus diharapkan berkontribusi maksimal sebagai sumber pemasukan sebagai negara yang dikenal kaya akan sumber energi tersebut, tentu dengan tidak mengesampingkan pengembangan kearah energi baru terbarukan (EBT) yang pencapaiannya investasinya kini melampaui target APBN 2017, yakni 6,33 persen diatas target semula 4,66 persen.

Lalu bagaimana dengan industri hulu migas yang menunggu target bauran EBT yang 22,5 persen pada tahun 2025? Migas sendiri menurut prediksi masih akan berkontribusi sebanyak 47 persen pada tahun tersebut, dan naik menjadi 47 persen pada 2050. Tentu prediksi tersebut menunjukkan bahwa migas juga masih diharapkan untuk menopang energi kini dan masa mendatang.

Untuk itu MONITOR mencoba mewawancarai Anggota Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih guna mengetahui lebih lanjut bagaimana kondisi industri hulu migas kini, apa yang membuat iklim investasinya lesu, dan bagaimana Pemerintah dan DPR mampu bersinergi untuk melakukan perbaikan sektor yang nantinya digadang akan bergeser menjadi EBT, setidaknya sampai target realisasi tersebut selesai.



Disela-sela kesibukannya sebagai anggota legislatif Eni berbicara banyak hal, mengenai betapa rumitnya peraturan-peraturan di industri migas bak benang kusut yang saling tumpang tindih, hingga pandangan-pandangannya terkait apa yang dirasakan para pengusaha atau investor di sektor tersebut dengan pengalamannya sendiri sebagai mantan pengusaha gas.

Berikut petikan wawancara MONITOR dengan Anggota KOMISI VII DPR RI dari Dapil Jawa Timur X Eni Maulani Saragih di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/10):

Bagaimana pandangan Anda terkait kondisi umum sektor migas di Indonesia saat ini?

Jadi kalau kita lihat dengan situasi saat ini ya, itu tidak sama dengan situasi diluar, global. Kita tahu harga minyak saat ini mungkin agak lebih baik dibanding dengan setahun dua tahun yang lalu yang pada titik yang paling rendah. Sehingga memang banyak orang tidak mau berinvestasi disini. Karena memang sumur-sumur yang baru itu tidak ada, seharusnya berfikirnya kan 'kalau hari ini tidak ada potensi yang baru, bagaimana kedepan?', energi fosil masih tetap lah, masih sesuatu. Cuman kalau mereka berifikir mau menggali sesuatu yang baru, investasinya akan luarbiasa. Apalagi di Indonesia ini izin-izin sudah luar biasa, mungkin yang tampak dari satelit itu ada, mungkin belum tentu ada, kita bole menerka ternyata tidak ada. Jadi begitu banyak resiko yang bisa terjadi akhirnya pengusaha memang berpikir ulang.



Bagaimana dengan cadangan yang ada dan sedang berjalan?

Kalau mau membuka potensi baru. Jadi satu karena memang harga minyaknya luar biasa rendah, jadi kalau mau investasi resikonya terlampau tinggi, yang kedua menurut saya memang sekemanya yang tidak ramah dengan investor. Yang mana? ya gross split ini. Walaupun memang sudah diperbaiki, ada beberapa pasal yang kemarin diperlengkap lagi, tapi masih belum lah.

Maksud Saya, dengan situasi harga minyak yang seperti ini orang mempunyai resiko yang tinggi, kayaknya enggak deh. Apalagi yang urgen lagi mereka butuh kepastian. Ini yang akhirnya mereka mikir ulang, kemarin cost recovery, hari ini grossplit, terus tiba-tiba grossplitnya diperbaiki, orang yang mempunyai uang lebih baik menyimpan uangnya di tabungan, menyimpan dulu sampai memang keadaan lebih baik.

Apa artinya, bukan karena cadangan yang kurang, melainkan peraturan yang masih tidak mendukung iklim investasi lebih baik?

Mengapa Singapura dan Malaysia kok lebih baik masalah investasi segala macam? itu karena kepastian hukum itu lebih, mereka butuh itu, bagaimana saya bisa percaya menaruh uang disini kalau sedikit-sedikit semuanya berubah.

Undang-undang yang ada itu bisa berubah, kalah dengan permen dengan perpres. Padahal lebih kuat mana Undang-undang dengan permen dan perpres? harusnya kan Undang-undang, harusnya itu menurunkan permen yang sangat teknis yang tidak melanggar Uundang-undang, tapi kan kadang Undang-Undangnya apa Permennya nabrak tuh, dan itu banyak di migas.



Hal itu dirasakan langsung oleh investor atau swasta?

Begitu banyak swasta-swasta, tidak usah yang besar-besar, investor yang kelas menengah misalnya, mereka sudah bangun fasilitas gas, tapi permen tidak ramah dengan mereka, padahal Undang-Undang Migas mengatakan swasta boleh.

Akhirnya semua merasa bahwa BUMN itu yang merah putih, emang yang swasta tidak merah putih? Itulah, ini memang saya rasa agak kompleks dan agak ribet, ada satu benang kusut begitu yang kayaknya tumpang tindih, mungkin orang luar yang mau masuk sini melihat bahwa potensi kita luar biasa, tapi melihat kayaknya kompleks banget mereka ragu untuk masuk.

Kerumitan itu, apakah menjadi perlu untuk melakukan Revisi Undang-undang Migas?

Iya memang kita sedang menyiapkan konsepnya, juga masukan konsep dari pemerintah. Karena Undang-Undang itu bisa berjalan kalau kita dari DPR dan Pemerintah itu bisa sepaham. Nah kita sudah menyampaikan, nanti tinggal dari pemerintah masukannya apa.

Apakah sektor Migas masih Potensial untuk berkontribusi pada APBN?

Untuk tahun-tahun ini belum bisa diharapkan lah, karena memang harganya yang murah, investor butuh kenyamanan dan kepastian lah.

(jml)

Terpopuler