Politik

Forum Rembuk Masjid Indonesia : Cegah Politisasi Masjid

Ilustrasi

MONITOR, Jakarta - Forum Rembuk Masjid Indonesia (Formasi) meminta kepada semua pihak untuk tidak menjadikan mesjid sebagai sarana politik praktis demi merebut kekuasaan. Formasi meminta fungsi masjid tetap dijaga sebagai tempat ibadah kepada sang khalik.

“Masjid ditinjau dari segi etimologi, berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata sajada-sujud-masjad/masjid. Sujud mengandung arti taat, patuh dan tunduk dengan hormat. Tempat yang dibangun khusus untuk melakukan sujud seperti ini secara rutinitas disebut Masjid,” ujar Ketua Umum Formasi Gus Sholeh dalam keterangan pers yang diterima MONITOR, Rabu (14/2).

Gus Sholeh menambahkan dalam ilmu gramatikal bahasa Arab kata masjid dinamakan ismu makan (kata benda) yang menunjukkan pada arti tempat. Jadi Masjid berarti tempat bersujud.

Akan tetapi, lanjut Gus Sholeh semenjak Pilgub DKI Jakarta 2017 dan berlanjut hingga saat ini menjelang Pilkada serentak 2018, fungsi masjid di Jakarta dan sekitarnya, bahkan merambat ke daerah-daerah lain, fungsi masjid bukan hanya tempat untuk bersujud kepada Allah saja, tapi masjid juga dijadikan ajang politisasi para politikus yang bertopengkan agama, demi kepentingan ambisi dan sahwat kekuasaan yang sesaat.

“Islam adalah agama Rahmatan Lil’alamien yang mengajarkan nilai-nilai perdamaian & kasih sayang kepada semua umat manusia, maka selayaknya umat Islam yang mayoritas dinegeri ini menjadi payung, yang dapat memberi keteduhan dan kedamain bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.

“Tapi karena politisasi masjid, justru yang terjadi sebaliknya, banyak para Khotib Jumat dan Penceramah Pengajian Masjid yg telah direkrut oleh politisi tertentu, disaat khutbah jumat tanpa merasa bersalah dan berdosa, khutbahnya menjurus pada politik tertentu dng menjelek jelekkan bahkan menghujat serta mencaci maki lawan politiknya,” tambahnya.

Gus Sholeh menyoroti saat ini tidak sedikit masjid yang sejatinya dibuat tempat beribadah dan dakwah-dakwah menyejukkan beralih fungsi menjadi ajang khotbah tentang kebencian dan permusuhan.

“Tuduhan bid’ah, ahli neraka, kafir, musyrik dan munafik terhadap paham yang berbeda, ceramah penuh hasutan serta ujaran kebencian terhadap Pemerintah dibeberapa masjid, indikasi telah masuk & semakin menguatnya paham radikalisme agama yang dapat membahayakan keutuhan bangsa Indonesia yang multi etnis, suku, budaya & agama,” ungkapnya.

Atas kondisi tersebut, Gus Sholeh Mz, menegaskan bahwa semua pihak musti berkomitmen dan mendeklarasikan hal-hal sebagai berikut :

1. Menolak segala bentuk politisasi Masjid.

2. Mengembalikan lagi fungsi Masjid seperti semula yaitu tempat untuk beribadah kepada Allah SWT dan tempat untuk menyampaikan pesan-pesan suci agama Islam.

3. Masjid harus menjadi sarana untuk mempersatukan umat bukan dijadikan sarana memecah bela dan memperuncing perbedaan

4. Menjadikan Masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan menjadikan mimbar-mimbar Masjid sebagai media untuk menyampaikan dakwah atau ajakan menjalankan ajaran agama secara sejuk dan damai, menerima perbedaan dan saling menjunjung toleransi bukan caci maki, ujaran kebencian dan ajakan permusuhan.

5. Merefleksikan ajaran Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin

6. Mencegah jangan sampai masuknya Khotib Jumat & Penceramah Pengajian Masjid yang berpaham radikal.

(jml)