Bisnis

Beras Impor belum masuk Cipinang, Stok diklaim sudah mencapai 5.000 Ton

Ilustrasi

MONITOR, Jakarta - Direktur Food Station, Arief Prasetyo mengatakan bahwa saat ini stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) masih menggunakan beras lokal. Arief memastikan beras impor belum masuk ke Cipinang.

"Saya sudah melihat panen di Demak, Kudus, Karanganyar, Pablengan. Bahkan semua Jawa Tengah sedang panen, memang hasil panenannya lebih banyak mengisi gudang daerah setempat," Kata arief

Arief menambahkan bahwa pada Senin kemarin (12/2) beras yang masuk ke Cipinang sebanyak 5000 ton yang sebelumnya 1000 ton, artinya berangsur ada peningkatan.

Sehari sebelumnya, Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih angkat bicara mengenai anjloknya harga gabah petani yang belum sebanding dengan penurunan harga beras di pasaran. Padahal, beras impor 500 ribu ton dari negara tetangga belum masuk.

“Kan (problem harga) ini dipengaruhi dua kekuatan. Pertama, kekuatan pengaruh impor beras yang sudah mau dan akan masuk. Kedua, pengaruh daripada panen raya. Jadi kala panen naik dan impor masuk, harga beras dan padi (gabah) turun. Jadi ini soal timing saja,” kata Bungaran, Senin (12/2).

Namun yang menjadi problem, lanjut Bungaran, yang dijual petani ini kebanyakan adalah gabah, bukan beras. Sehingga ketika terjadi panen raya dimana produksi meningkat, sementara impor belum sepenuhnya masuk, menjadi dalih pedagang atau perusahaan penggilingan padi belum mau buru-buru beli gabah petani dan tetap mempertahankan stoknya yang masih ada.

"Apalagi gabah ini termasuk komoditas pertanian yang bisa bertahan cukup lama," ujarnya.

“Namanya pedagang kan pasti hitung untung rugi. Makanya kita jangan andalkan pedagang tapi pemerintah pemerintah masuk ke dalamnya. Bulog ini walau sendirian dengan stok di bawah 10 persen saja sebenarnya sudah bisa berpengaruh ke harga,” tambahnya.

Cara pedagang yang menunggu timing ini pula menurut Bungaran menjadi penyebab gabah anjlok sementara disisi lain harga beras penurunannya tidak terlalu signifikan.

“Gabah ini juga kan tidak langsung masuk ke konsumen, harus diubah dulu jadi beras, kemudian dibawa ke kota. Nah ini kan butuh waktu. Belum jadi suplai di level konsumen, (tapi) impornya sudah mau masuk. Tapi nanti ini pengaruhnya di petani. Gabah turun, harga beras turun, kalau panen sudah sempurna dan impor sudah masuk. Jadi soal timing saja dimana kecenderungannya nanti akan merugikan petani,” katanya.

Akibatnya, lanjut dia, petani sudah barang pasti tidak bisa lagi harapkan harga yang ideal karena impor sudah masuk dan produksi dalam negeri melimpah mengingat Februari-Maret ini akan ada panen raya. Karena itu, untuk antisipasi harga gabah petani jatuh lebih dalam lagi, dia meminta Bulog harus segera melakukan pembelian. Disamping menjaga harga pembelian di tingkat petani, juga menjadi momentum bagi Bulog untuk segera mengisi stoknya yang yang makin menipis.

“Supaya harga petani jangan turun, Bulog harus bermain cepat melakukan pembelian. Coba lihat datanya di wilayah mana saja yang segera panen bersiap disitu. Apalagi masalahnya ini kan ada juga musim hujan, sewaktu panen tidak ada matahari, sementara alat pengering sangat terbatas. Ini juga sangat berpengaruh bagi petani,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, dia menyarankan ada baiknya Bulog untuk melakukan evaluasi terhadap target impornya yang sebelumnya mencapai 500 ribu ton mengingat harga di level petani sudah turun, tinggal Bulog bagaimana untuk meresponnya.

“Jadi Bulog laksanakan saja tugasnya,” katanya.

Mengenai target serap gabah 4,4 juta ton dari petani hingga Juli nanti, Bungaran optimis hal itu bisa tercapai. Toh, sekarang sudah banyak wilayah yang panen dan harga turun.

“Ini bukan persoalan sulit atau mudah. Tapi sudah menjadi tugasnya Bulog. Kalau ada kesulitan pasti akan ada kesulitan. Selesaikan saja kesulitan itu. Begitu. Jadi jangan cenderung mengimpor,” tambah dia.

Sebagaimana diketahui, Petani di wilayah Jawa Tengah menjerit harga gabah anjlok hingga Rp 3800 per kilogram. Sayangnya, Bulog belum banyak lakukan aktivitas pembelian gabah. Sebagai upaya perkuat beras cadangan pemerintah yang juga ikut anjlok.

"Harga gabah sekarang turun Rp 3800 per kilogram. Turunnya harga gabah ini merata di seluruh wilayah Grobogan," jelas Kastuari, petani di Desa Menduran, Kec. Brati, Kab. Grobogan.

Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas Kementan, Suwandi mengatakan “beras panen raya Jawa Tengah dan Jawa Timur kini sudah mulai masuk ke pasar lokal maupun antar provinsi”.

“Untuk diketahui panen pada Februari ini di Jawa Tengah seluas 335 ribu hektar dan di Jawa Timur 235 ribu hektar. Secara nasional total panen Februari 1,65 juta hektar dan puncak panen raya pada Maret mencapai 2,25 juta hektar” jelasnya.

Justru sekarang Tim Serap Gabah Petani (sergap) bersama Bulog gencar menyerap gabah petani supaya harga tidak jatuh. Gudang-gudang Bulog akan diisi dari beras petani dengan target minimal 2,2 juta ton pada panen raya ini” pungkasnya.

Menanggapi belum maksimalnya beras yang masuk ke PIBC pedagang beras Pasar Cipinang Billy menilai belum stabilnya pasokan beras ke Cipinang lebih dikarenakan daerah-daerah yang panen raya lantaran untuk mengisi pasar sendiri dulu.

“Inikan untuk isi daerah sendiri. Misal Kab Sragen, tempat saya. Itu untuk isi pasar Solo sekitarnya. Panen rayanya juga inikan nanti masuk akhir-akhir Februari dan awal Maret ini. Tapi mudah-mudahan cuaca bagus. Jenuh juga kita harga tinggi terus. Modal gede untung kecil. Tiap hari juga satgas ngecek gudang-gudang kita,” jelasnya.

(jml)

Terpopuler