Peristiwa

Tokoh Agama Jadi Sasaran Intimidasi, Putri Gus Dur Angkat Bicara

Direktur Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh, atau Yenny Wahid (dok:merdeka)

MONITOR, Jakarta - Belakangan ini, aksi kekerasan dan pola intimidasi tertuju pada sejumlah tokoh agama. Pada hari Minggu (11/2) pagi, seorang lelaki menyerang beberapa jemaat dan seorang pendeta di Gereja Santa Lidwina Sleman Yogyakarta.

Sebelumnya, pada Sabtu (10/2) juga tersebar sebuah video penolakan terhadap seorang biksu di Legok Tangerang, Banten, bernama Mulyanto Nurhalim. Oleh sebagian warga, ia dituduh menyalahgunakan tempat tinggalnya untuk menggelar bakti sosial.

Bahkan di akhir Januari, seorang Pengasuh Pesantren Al-Hidayah Cicalengka KH Umar Basri mengalami penganiayaan oleh lelaki paru baya.

Terkait insiden tersebut, Direktur Wahid Foundation Yenny Zannuba Wahid mengutuk keras serta meminta pemerintah pusat dan daerah melakukan kajian sekaligus upaya deteksi dini (early warning system).

"Langkah ini dapat dilakuan melalui deteksi dini kasus-kasus intoleransi, termasuk ujaran kebencian, yang kemungkinan bakal meningkat jelang dan selama masa-masa pemilihan kepala daerah serentak di Indonesia," ujar Yenny, dalam keterangan tertulisnya yang diterima MONITOR.

Sejauh ini, ia melihat ormas-ormas keagamaan di Indonesia sudah melakukan seruan para pengikutnya agar menghindari provokasi dan menjaga kerukunan antar umat beragama. Putri Gus Dur ini pun melayangkan apresiasi.

"Ini bukti bahwa masyarakat Indonesia makin dewasa dan matang dalam menyikapi kasus-kasus kekerasan," imbuh pemilik nama Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid ini.

Selanjutnya Yenny mendorong Kemenkominfo dan perusahaan-perusahaan media sosial seperti Facebook, Youtube, dan Twitter, untuk terus memantau kasus-kasus hoax dan berita palsu atas tiga kasus tersebut, yang disengaja untuk memanaskan situasi di masyarakat.

(tsar)